ILMU AKAN TERUS BERKEMBANG SELARAS DENGAN PERKEMBANGAN ZAMAN YANG SEMAKIN CANGGIH

Senin, 06 Januari 2014

Kepergian Yang Mendadak

Pagi itu diriku lagi asyik nongkrong di depan tv sambil bbman, tiba-tiba ada pesan masuk di hpku, lalu ku buka pesan itu, ternyata dari sepupuku yang mengabarkan kalau ayah teman aku kecelakaan, ku balas dengan penuh pertanyaan, kecelakaan dimana? Kapan? Dan sekarang ada dimana?, tapi dia hanya menjawab sudah ada di rumahnya karena meninggal dunia, “innalillahi wainnalillahi rajiun”

Beberapa detik kemudian ada bbm masuk yang bertuliskan teks kalau sahabatku “yunita salam” juga meninggal, tapi aku tidak percaya dengan BC Itu, Namun informasi Dari Adik kelasku Itu cukup Membuktikan. Terkejut mendengar berita itu, diriku terjatuh, menangis dan tak tau harus Bagaimana, Ya Allah Ada Apa Dengan sahabatku itu.

Dengan air mata yang tak hentinya mengalir, ku tenangkan perasaanku, lalu ku broadcast pesan ke teman-teman SMAku termasuk sahabatku juga desy fahmi dan umbranah yang juga 1 geng denganku dan Yunita, ku Bc tentang berita duka itu, tapi satu persatu menelponku. “Serius kow ancy, jangan kow bercanda?” Dan aku hanya menjawab, kenapa aku harus bercanda dengan hal seperti itu.

Tanpa fikir lagi, ku ambil motor Dan segera menuju ke rumah sahabatku itu, sesampai di rumahnya, aku tak sanggup melihat jenazah keduanya. Sahabatku dan Ayahandanya terbujur kaku dengan ditutupi sehelai sarung dan kain putih.

Air Mata pun tak hentinya mengalir, di depan jenasah Sahabatku, ku iringi doa semoga dia dan ayahandanya diterima di sisi Allah SwT.

Aku masih tidak percaya kalau yang terbujur kaku itu sahabatku “yunita salam” Karena semalam aku masih bbman dengannya, dia masih bercanda dengaku, beri aku semangat, menasehatiku. Ya Allah… Aku sungguh tak menyangka kalau itu adalah malam terakhir bercanda dengannya.

Sahabatku yang akan menuju ke tempat kerjanya di Mall gtc dengan dibonceng ayahnya mengendarai sepeda motor Honda beat warna orange, tiba-tiba di tengah perjalanan diseret oleh mobil avanza warna putih ke dalam selokan di depan perumahan espana tanjung Bunga. Begitu tragis kematian sahabatku ini.

Mungkin sulit untuk di percaya, kenapa dia pergi begitu cepat, tapi itulah kenyataan yang harus diterima dengan lapang dada, Tuhan tau apa yang terbaik untuk Yunita dan Ayahandanya, dan mungkin itulah yang terbaik buat mereka berdua.

Yunita Sang ceria selalu, kini Hanya tinggal kenangan, Sosok Yang Sulit untuk dilupakan, Namamu Akan selalu di hatiku kawan, dan kau tetap jadi sahabatku hingga saatnya nanti kita dipertemukan di Alam yang Sama.

Begitu Banyak kenangan indah saat bersamanya, seseorang yang tak pernah menampakkan kesedihannya, seseorang yang tak pernah marah pada diriku, hingga terbujur kaku pun dia masih tersenyum “subhuhanallah”.

Selamat Jalan sahabatku “yunita salam”
Selamat jalan Om
Semoga Kalian mendapat tempat yang layak di sisi Allah swt.

Ya Allah Titip Sahabatku, peluk dia, Jaga dia, dan terima dirinya di sisimu Ya Allah, Aminn Aminn Ya rabbal Alamin

 

Kejadian Tak Terduga

Hari-hari selalu kami jalani dengan ceria, walau terkadang cobaan selalu mengahadang dimanapun dan kapanpun. Teringat saat salah satu dari kami mengalami suatu peristiwa yang sangat tidak mengenakan untuk di ingat maupun di lupakan. Dimana saat itu sebuah peristiwa kecelakaan yang menimpa sahabatku.

Pada waktu itu saya bersama Eron, Ian, Vio, Gabriel dan Rena. Saat itu kami akan menuju sebuah Festival dimana ada acara Konser Band yang di adakan sebuah Mall pada sore hari itu. Dan kami pun dangat berminat untuk menonton acara tersebut. Waktu itu sebelum berangkat ke Festival tersebut saya mengajak sahabat-sahabat saya untuk menonton acara Festival tersebut. Kemudian saya mengajak Eron, Gabriel, Ian, Rena dan Vio. Mereka pun setuju dengan ajakan saya untuk menonton acara Festival tersebut dan kami pun bersiap-siap untuk berangkat menuju acara tersebut.

Saat perjalanan kami membawa kendaraan masing-masing dengan salah satu sahabat kami. Saya bersama Gabriel sedangkan Rena dengan Ian dan Vio dengan Eron. Saat perjalanan Eron dan Ian kebut-kebutan di jalan, kami pun akhirnya terpisah sehingga terpaksa saya dan Gabriel berhenti untuk menghubungi mereka. Saat Gabriel menelfon ke salah satu dari mereka, tak pernah ada satu pun jawaban dari mereka. Saya dan Gabriel pun merasa khawatir dengan keadaan ini, takutnya ada apa-apa dengan mereka. Dan lama-lama kemudian saya dan Gabriel menghubungi mereka, akhirnya ada jawaban juga. Saat itu salah satu dari mereka ada yang menjawab juga. Gabriel pun bertanya “Kenapa kamu ngga pernah angkat telefonnya, Na? Dan yang lain juga.” bertanya kepada Rena.
“Maaf El, kami saya dan Ian ngga sempet jawab telefon dari kamu. Soalnya si Eron..” Jawab si Rena dengan suara sedih dan menangis.
“Ada apa dengan Eron, Na?” Jawab Gabriel dengan nada kekhawatiran.
“Apa yang Rena katakan, El?” Tanya Saya pada Gabriel.
“Nggak tau, Katanya ada yang terjadi ama si Eron.” Jawab Gabriel dengan tertunduk lesu.

Saya pun merasakan kekhawatiran yang mendalam dengan keadaan Eron saat ini. Entah apa yang terjadi dengan mereka sehingga saya dan Gabriel merasa Takut. Dan Beberapa saat kemudian Rena pun menjawab “Eron sama Vio… mengalami kecelakaan El.” Dengan nada menangis.
Gabriel pun kaget dengan apa yang telah Rena katakan tersebut.
“Ya Allah.. Sekarang kamu lagi dimana?” Tanya Gabriel dengan terburu-buru sambil menangis.
“Di Rumah Sakit Indah Jalan Prakarya.” Jawab Rena sambil menangis.
“Ya udah tunggu di sana ya, Kami segera ke situ!” Jawab Gabriel dengan terburu-buru.
“Ayo, kita ke Rumah Sakit Indah yang di jalan Prakarya.” Suruh Gabriel sambil menangis.

Dan kami pun langsung menuju rumah sakit tersebut. Sesampainya di sana, saya langsung bertanya kepada mereka “Apa yang terjadi dengan mereka?” tanya saya dengan khawatir.
“Eron.. Eron jatuh dari motor saat menyalip truk yang lewat” Jawab Ian dengan wajah lesu.
“Udah saya bilang kan jangan ngebut-ngebut di jalan” Jawab saya sambil marah.
“Sudahlah, jangan marahan. Kita tunggu apa kata dokter” Jawab Gabriel.

Beberapa saat kemudian dokter pun keluar. “Mereka nggak apa-apa kan Dok?” Jawab saya dengan khawatir.
“Alhamdulillah mereka ngga apa-apa, hanya mengalami goresan ringan” Jawab Dokter.
“Syukur Dehh” Jawab Gabriel dengan sedikit tersenyum.

Akhirnya Eron dan Vio pun hanya mengalami benturan dan goresan ringan. Dan beberapa hari kemudian mereka pun sembuh dan berkumpul-kumpul lagi seperti biasa. Saya pun merasa senang dengan keadaan mereka saat ini dan peristiwa tadi tak akan pernah kami lupakan, karena itu adalah pengalaman peristiwa yang sungguh-sungguh menyangkut nyawa sahabat kami. Walaupun tidak jadi untuk menonton acara Festival tersebut, tapi kami mendapatkan pengalaman yang sangat bermakna dari sebuah kehidupan. Jadi Kesimpulannya adalah: Janganlah kalian berbuat yang nekad, walaupun itu bersifat bercanda atau sebagainya.

Bersyukur Apa Yang Ada

Kisah ini saya angkat berawal saya masih SD, kejadian ini terjadi pada daerah saya sendiri. Rumahnya tak jauh dari rumahku, sebelum mereka sukses seperti sekarang ini. Dulunya dua orang sepasang suami istri ini hidup apa adanya, bertahun-tahun mereka menjani hidup mereka dan mengharapkan buah hati, tapi sayangnya yang maha kuasa belum menghendaki.

Yang saya herankan dari keluarga ini, bertahun-tahun mereka bersama dan menjalani hidupnya tanpa kehadiran buah hati, hubungan keluarga mereka baik saja tidak seperti keluarga orang lain yang saya saksikan sendiri di kampung saya. Mungkin bisa dikatakan kalau orang lain yang seperti keluarga ini, mungkin sudah lama cerai lantaran sang buah hati tidak ada. Tapi anehnya mereka tak seperti itu bahkan mereka tampil apa adanya dikalangan masyarakat yang ada di desa itu.

Dulunya sang istri dari suami itu, sebelum sukses dia bekerja di sebuah rumah tapi bisa dikatakan rumah itu adalah rumah sepupunya sendiri. Dan suaminya juga bekerja di rumah itu sebagai nahkoda kapal karena rumah itu memiliki kapal untuk selalu pergi belanja memenuhi kebutuhan keluarganya.

Pernah suatu hari saya lihat wanita itu sering disuruh-suruh membuat segala hal yang disukai majikannya. tapi kalau saya pikir kenapa harus dia yang disuruh terus! padahal dia sepupunya, kenapa bukan orang lain saja. Tapi wanita itu tidak ambil pusing dia turuti saja keinginan majikannya itu tanpa berkata apa-apa.

Beberapa bulan atau tahun, tapi saya tidak tau pasti juga, dia bekerja disitu berapa bulan atau tahun, bahkan suatu hari itu majikannya pernah mengalami kebangkrutan lantaran suaminya yang selalu hamburkan uang, tetapi wanita itu tetap saja bertahan dengan suaminya untuk membantu majikannya. Saya heran kenapa harus seperti ini…! pikiranku dalam hati.

Beberapa bulan kejadian itu berlalu dan akhirnya kembali normal seperti biasanya, dan mereka mulai lagi membuka kegiatan baru di rumah itu.

Tidak cukup lama mereka membuka kegiatan yang baru terjadi lagi hal yang buruk pada majikannya yaitu sang suami majikan selingkuh dengan orang lain dan rumah tangga mereka hancur berantakan. Dan akhirnya wanita itu berhenti bekerja dengan suaminya, saya juga tidak tau pasti apakah selama dia bekerja di rumah itu diupah atau bagaimana…? Menurut tetangga dia bekerja di rumah itu hanya sekedar membantu saja tanpa mengharapkan apa-apa.

Sebulan kejadian itu berlalau dan kabar majikannya tidak tau bagaimana sekarang…? akhirnya sepasang suami istri memutuskan untuk tidak bekerja lagi di rumah itu. tetapi, sang suami bekerja pada orang lain yaitu sebagai pengangkut barang. Disaat itulah timbul keinginan untuk membuka usaha kecil-kecilan dan akhirnya mereka membuka usaha itu.

Beberapa bulan kemudian usaha yang selama ini mereka kerjakan tidak sia-sia. Tiap harinya sering dikunjungi warga disitu untuk membeli kebutuhan mereka masing-masing. Beberapa bulan berturut-turut akhirnya mereka menjadi sukses seperti sekarang ini. tapi mereka tampil apa adanya kepada warga disitu tidak seperti majikannya… Sebulan berlalu terdengarlah bahwa rumah majikan yang dulu mereka tempai kini sudah dijual dan majikannya pindah ke suatu desa, dan menurut warga disitu mereka menjual rumahnya lantaran mereka tak punya apa-apa lagi selain rumah dan mereka pun menjualnya.

Kini hiduplah sepasang suami istri itu dengan kehidupan yang berkecukupan, meskipun selama ini mereka menantikan sang buah hati tapi belum dikaruniai juga, mereka tetap bersyukur pada sang pencipta karena sudah diberi kebahagiaan yang layak di dunia, mudah-mudahan sampai akhirat. Mereka juga selalu mengujungi kami dan selalu menyedekahkan sebagian hartanya untuk kami dan orang lain yang ada di desa itu.